Vendor & Supply Chain

Cara Membuat Sistem Receiving / Penerimaan Barang Restoran

23 Jul 2026
8 min
Cara Membuat Sistem Receiving / Penerimaan Barang Restoran
▶ Video Singkat
Cara Membuat Sistem Receiving / Penerimaan Barang Restoran
Youtube Shorts
Tonton video

Receiving adalah proses menerima, memeriksa, mencatat, dan menyetujui barang yang datang dari supplier sebelum barang tersebut masuk ke dapur, storage, outlet, warehouse, atau central kitchen. Dalam bisnis restoran, receiving adalah titik kontrol yang sangat penting karena di sinilah restoran memastikan bahwa barang yang datang benar-benar sesuai dengan pesanan.

Banyak kebocoran bisnis kuliner terjadi bukan saat menjual makanan, tetapi saat menerima barang. Misalnya ayam yang dikirim lebih kecil dari standar, sayur tidak segar, ikan kurang berat, packaging kurang jumlah, invoice lebih tinggi dari PO, atau barang datang tanpa dicek lalu langsung dipakai oleh kitchen.

Receiving yang baik membantu restoran menjawab:

Pertanyaan Mengapa Penting
Apakah barang yang datang sesuai PO? Menghindari salah item dan salah jumlah
Apakah kualitas barang sesuai standar? Menjaga rasa, keamanan, dan konsistensi produk
Apakah berat/jumlah barang benar? Mencegah kerugian dari short delivery
Apakah harga sesuai kesepakatan? Mengontrol food cost
Apakah barang rusak/expired? Menghindari waste dan risiko pelanggan
Apakah barang langsung masuk stok? Menjaga akurasi inventory
Apakah supplier sering bermasalah? Dasar evaluasi supplier
Apakah invoice layak dibayar? Dasar 3-way matching: PO, receiving, invoice

Alur idealnya:

Purchase Order → Barang Datang → Receiving Check → Quality Check → Goods Received Note → Update Stok → Invoice Matching → Payment

Receiving bukan hanya “terima barang”. Receiving adalah proses kontrol agar restoran tidak membayar barang yang salah, kurang, rusak, atau tidak sesuai standar.

Restoran Skala Micro

A. Pembahasan Umum

Pada restoran skala mikro, receiving biasanya dilakukan langsung oleh owner atau helper. Barang bisa datang dari pasar, supplier kecil, toko bahan, atau dibeli langsung oleh owner. Karena skalanya kecil, banyak owner merasa tidak perlu membuat proses receiving khusus.

Namun justru pada skala mikro, kesalahan kecil bisa langsung memukul margin. Misalnya ayam yang dibeli ternyata banyak tulang dan sedikit daging, cabai sebagian busuk, telur pecah, atau box takeaway kurang jumlah. Jika tidak dicek saat barang diterima, owner baru sadar ketika barang sudah akan dipakai. Saat itu biasanya sulit melakukan komplain atau retur.

Receiving mikro cukup dibuat sederhana. Fokusnya adalah memastikan barang yang dibeli atau diterima:

  1. Sesuai jumlah.
  2. Sesuai kualitas.
  3. Tidak rusak atau busuk.
  4. Sesuai harga.
  5. Langsung disimpan dengan benar.

B. Tujuan & Manfaat

Tujuan receiving pada skala mikro adalah memastikan owner tidak membayar atau memakai barang yang buruk, kurang, atau tidak sesuai.

Manfaatnya:

Manfaat Penjelasan
Mengurangi kerugian bahan Barang rusak tidak langsung diterima
Menjaga kualitas rasa Bahan segar menghasilkan produk stabil
Mengurangi waste Bahan buruk dipisahkan sejak awal
Supplier lebih disiplin Supplier tahu barang akan dicek
Food cost lebih terkendali Jumlah dan harga lebih akurat
Operasional lebih siap Bahan langsung disimpan dengan benar

C. Proses & Alur Kerja

  1. Owner/helper menyiapkan daftar belanja/order.
  2. Barang datang.
  3. Jumlah dihitung.
  4. Kualitas diperiksa.
  5. Barang bermasalah dicatat dan dikomplain.
  6. Barang layak disimpan sesuai kategori.
  7. Catatan receiving dipakai untuk evaluasi supplier dan belanja berikutnya.

Alur Sederhana

Tahap Aktivitas
Persiapan Siapkan daftar barang
Terima Barang datang
Hitung Cek jumlah
Cek Kualitas Segar/rusak/kurang
Catat Terima/tolak/komplain
Simpan Sesuai storage dan FIFO

D. SOP yang Terkait

SOP Receiving Skala Mikro

Langkah Prosedur
1 Siapkan daftar barang yang dibeli/dipesan
2 Saat barang datang, hitung jumlah fisik
3 Cek kualitas: segar, tidak busuk, tidak pecah, tidak bocor
4 Bandingkan harga dengan catatan pembelian
5 Pisahkan barang rusak atau tidak layak
6 Foto barang bermasalah jika perlu
7 Komplain langsung ke supplier jika ada selisih
8 Catat barang yang diterima dan barang yang ditolak
9 Simpan bahan sesuai jenisnya: chiller, freezer, dry storage
10 Gunakan prinsip first in first out atau FIFO

Template Receiving Mikro

Tanggal Supplier Item Qty Pesan Qty Datang Kondisi Catatan
1 Juni Supplier Ayam Ayam 10 ekor 10 ekor Kecil Komplain
1 Juni Supplier Telur Telur 3 tray 3 tray 5 retak Minta ganti

E. Audit yang Terkait

Area Audit Pertanyaan Audit
Jumlah Apakah barang dihitung saat datang?
Kualitas Apakah barang dicek sebelum disimpan?
Harga Apakah harga sesuai catatan?
Barang rusak Apakah barang rusak dipisahkan?
Komplain supplier Apakah barang bermasalah langsung dikomplain?
Penyimpanan Apakah bahan disimpan sesuai jenisnya?
FIFO Apakah bahan lama dipakai lebih dulu?
Catatan Apakah receiving dicatat walaupun sederhana?

F. Stakeholder Terkait

Stakeholder Peran
Owner Mengecek dan menyetujui barang
Helper/karyawan Membantu hitung dan simpan barang
Supplier/pedagang Mengirim barang sesuai pesanan
Pelanggan Merasakan kualitas bahan
Keluarga owner Jika membantu belanja/terima barang, perlu mengikuti standar

G. Studi Kasus

Warung “Soto Ayam Bu Sari”

Komponen Kondisi
Jenis usaha Soto ayam, nasi, sate telur
Jumlah kursi 12 kursi
Omzet bulanan ± Rp25 juta
Karyawan Owner + 1 helper
Supplier Ayam, telur, beras, sayur, plastik
Masalah utama Barang sering diterima tanpa dicek detail

Bu Sari biasanya menerima ayam dan telur dari supplier langganan. Karena sudah percaya, ia sering langsung memasukkan barang ke dapur tanpa dicek. Suatu hari, beberapa telur ternyata retak dan ayam yang dikirim lebih kecil dari biasanya. Akibatnya porsi ayam dalam soto menjadi tidak konsisten dan sebagian telur tidak bisa dipakai.

Setelah itu, Bu Sari membuat checklist receiving sederhana.

Checklist Receiving Sederhana

Barang Jumlah Pesan Jumlah Datang Kondisi Action
Ayam 10 ekor 10 ekor Ukuran lebih kecil Catat & komplain
Telur 3 tray 3 tray 5 butir retak Minta ganti/potong harga
Beras 25 kg 25 kg Baik Terima
Kol 3 kg 3 kg 0,5 kg layu Pisahkan
Plastik 100 pcs 95 pcs Kurang 5 pcs Catat

Dengan checklist sederhana, Bu Sari mulai lebih disiplin. Supplier juga menjadi lebih hati-hati karena tahu barang akan dicek.

H. Evaluasi & Refleksi

Pertanyaan refleksi untuk restoran mikro:

  1. Apakah saya selalu mengecek barang saat datang?
  2. Apakah saya pernah menerima bahan yang kualitasnya buruk karena sungkan kepada supplier?
  3. Apakah jumlah barang sering kurang?
  4. Apakah barang langsung disimpan dengan benar?
  5. Apakah bahan lama dipakai lebih dulu?
  6. Apakah saya mencatat supplier yang sering bermasalah?
  7. Apakah receiving membantu menurunkan waste?

Kesimpulan Skala Mikro

Untuk restoran mikro, receiving cukup sederhana tetapi sangat penting. Fokusnya adalah cek jumlah, cek kualitas, cek harga, pisahkan barang rusak, komplain supplier, dan simpan bahan dengan benar. Receiving kecil yang disiplin dapat menyelamatkan margin harian.

🔒
Buka panduan lengkap

Anda sedang melihat cuplikan gratis Skala Micro. Masuk atau daftar untuk membaca panduan lengkap Skala Micro — sekaligus membuka Skala lainnya.

🏪 KecilSudah naik level dari usaha sederhana. Punya gerai tetap, alur kerja mulai jelas, dan ada tim kecil yang bantu jalanin operasional sehari-hari. 🔒 Member
🏬 SedangBisnis mulai berkembang ke beberapa gerai atau skala yang lebih besar. Pengelolaannya sudah lebih rapi dengan pembagian peran yang jelas. 🔒 Member
🏢 BesarSudah jadi jaringan atau bahkan franchise, dengan banyak lokasi dan volume penjualan yang tinggi. Sistem dan tim biasanya sudah matang. 🔒 Member

Gratis · Tanpa kartu kredit · Akses penuh ke seluruh panduan & tools

Restoran Skala Kecil

A. Pembahasan Umum

Pada restoran skala kecil, receiving harus mulai memiliki prosedur yang lebih jelas karena barang yang datang lebih banyak dan tidak selalu diterima oleh owner. Bisa saja yang menerima adalah kitchen staff, supervisor, kasir, atau admin. Jika tidak ada prosedur, barang bisa diterima tanpa dicek.

Masalah umum pada skala kecil adalah supplier mengirim barang sesuai kebiasaan, bukan sesuai PO. Misalnya order ayam 50 kg, datang 48 kg; order sayur segar, sebagian layu; order susu 20 liter, 2 liter mendekati expired; order box 500 pcs, datang 470 pcs. Jika receiving tidak dicatat, invoice tetap dibayar penuh.

Pada tahap ini, restoran kecil perlu membuat Receiving Form atau Goods Received Note sederhana. Receiving harus mencatat barang yang datang, qty, kondisi, selisih, dan siapa yang menerima.

B. Tujuan & Manfaat

Tujuan receiving pada skala kecil adalah memastikan barang yang diterima benar-benar sesuai pesanan dan layak dipakai.

Manfaatnya:

Manfaat Penjelasan
Mengurangi pembayaran berlebih Invoice disesuaikan dengan barang diterima
Mengurangi stok selisih Barang kurang langsung terlihat
Menjaga kualitas produk Barang buruk tidak masuk produksi
Supplier lebih accountable Kekurangan dan retur tercatat
Admin lebih mudah cek invoice Receiving form menjadi bukti
Storage lebih rapi Barang masuk melalui proses resmi
Food cost lebih akurat Qty dan harga lebih terkontrol

C. Proses & Alur Kerja

  1. Supplier mengirim barang.
  2. Receiving staff mengambil PO.
  3. Barang dihitung dan dicek kualitas.
  4. Form receiving diisi.
  5. Barang bermasalah dipisahkan.
  6. Supervisor memberi keputusan.
  7. Barang diterima masuk storage.
  8. Form diberikan ke admin/finance.
  9. Invoice dicocokkan sebelum payment.

Alur Kerja

Tahap Aktivitas
Barang Datang Supplier kirim
PO Check Cocokkan item dan qty
Quality Check Segar, expired, rusak
Receiving Form Catat hasil
Decision Terima/retur/potong invoice
Storage Simpan sesuai standar
Invoice Check Admin cocokkan sebelum bayar

D. SOP yang Terkait

SOP Receiving Skala Kecil

Langkah Prosedur
1 Siapkan PO atau daftar order sebelum barang datang
2 Staff receiving membandingkan barang dengan PO
3 Hitung jumlah/berat barang
4 Cek kualitas dan tanggal expired
5 Catat barang yang kurang, lebih, rusak, atau tidak sesuai
6 Barang bermasalah dipisahkan dan difoto jika perlu
7 Supervisor/owner memberi keputusan: terima, retur, potong invoice
8 Receiving form ditandatangani penerima
9 Barang yang diterima dimasukkan ke storage
10 Invoice hanya dibayar sesuai barang yang diterima dengan benar

Template Receiving Skala Kecil

Tanggal Supplier PO No Item Qty PO Qty Datang Kondisi Action Penerima

E. Audit yang Terkait

Area Audit Pertanyaan Audit
PO matching Apakah barang dicocokkan dengan PO?
Qty check Apakah jumlah/berat dihitung?
Quality check Apakah kualitas dicek?
Expired date Apakah tanggal expired dicek untuk barang relevan?
Receiving form Apakah form diisi dan ditandatangani?
Barang bermasalah Apakah barang rusak dipisahkan?
Invoice Apakah invoice dipotong jika barang kurang/rusak?
Storage Apakah barang langsung disimpan benar?

F. Stakeholder Terkait

Stakeholder Peran
Owner Menetapkan aturan receiving
Supervisor Mengawasi penerimaan barang
Kitchen/Bar Staff Mengecek kualitas bahan
Receiving Staff Menghitung dan mencatat barang
Admin/Finance Mencocokkan invoice dengan receiving
Supplier Mengirim barang sesuai PO
Storage PIC Menyimpan barang sesuai kategori

G. Studi Kasus

Café “Kopi & Toast Ruko”

Komponen Kondisi
Jenis usaha Coffee shop, toast, pastry
Jumlah kursi 40 kursi
Omzet bulanan ± Rp220 juta
Karyawan 9 orang
Supplier Susu, roti, kopi, telur, packaging
Masalah utama Invoice supplier sering dibayar penuh walaupun barang datang kurang

Café ini memesan susu 30 liter, roti 200 pcs, dan cup 1.000 pcs. Barang diterima oleh staff bar yang sedang sibuk. Karena tidak ada receiving form, staff hanya menaruh barang di storage. Saat invoice datang, admin membayar penuh.

Setelah beberapa kali terjadi selisih stok, owner membuat receiving form.

Contoh Receiving Form

PO No Item Qty PO Qty Datang Kondisi Selisih Action
PO-012 Susu 30 liter 30 liter 2 liter dekat expired 0 Return 2 liter
PO-012 Roti 200 pcs 190 pcs Baik -10 Potong invoice
PO-012 Cup 1.000 pcs 980 pcs Baik -20 Supplier kirim sisa
PO-012 Kopi beans 5 kg 5 kg Baik 0 Terima

Dengan receiving form, admin punya dasar untuk menahan pembayaran atau meminta supplier mengirim kekurangan.

H. Evaluasi & Refleksi

Pertanyaan refleksi untuk restoran kecil:

  1. Apakah setiap barang datang dicocokkan dengan PO?
  2. Apakah staff menghitung berat/jumlah atau hanya menerima?
  3. Apakah barang rusak pernah tetap masuk dapur?
  4. Apakah invoice selalu dibayar penuh tanpa receiving check?
  5. Apakah tanggal expired dicek?
  6. Apakah supplier sering mengirim kurang?
  7. Apakah receiving form membantu mengontrol food cost?

Kesimpulan Skala Kecil

Untuk restoran kecil, receiving harus menjadi proses formal sederhana. Fokusnya adalah PO matching, quantity check, quality check, expired date, receiving form, retur, potong invoice, dan storage. Receiving yang baik mencegah restoran membayar barang yang tidak layak atau tidak lengkap.

🧠
Uji Pemahaman Anda — Skala Kecil Jawab beberapa pertanyaan singkat untuk mengecek pemahaman Anda.

Restoran Skala Sedang

A. Pembahasan Umum

Pada restoran skala sedang, receiving harus menjadi bagian dari procurement, inventory, dan finance control. Bisnis mungkin memiliki beberapa outlet, supplier rutin, pembelian besar, bahan high value, bahan cepat rusak, dan proses receiving yang dilakukan oleh beberapa PIC.

Pada tahap ini, receiving harus menghasilkan dokumen resmi yang disebut Goods Received Note / GRN atau Receiving Report. Dokumen ini menjadi bukti bahwa barang sudah diterima dan menjadi dasar update stok serta pembayaran invoice.

Receiving skala sedang harus mengontrol:

Area Kontrol
PO Barang datang harus sesuai pesanan
Quantity Jumlah/berat harus benar
Quality Kualitas harus sesuai standar
Temperature Untuk bahan dingin/beku
Expiry date Untuk dairy, frozen, sauce, packaged goods
Halal/traceability Untuk bahan tertentu jika relevan
GRN Bukti barang diterima
Inventory update Stok bertambah hanya setelah receiving
Invoice matching Finance bayar setelah PO-GRN-invoice cocok

B. Tujuan & Manfaat

Tujuan receiving pada skala sedang adalah memastikan barang yang masuk ke inventory benar secara jumlah, kualitas, dokumen, dan nilai.

Manfaatnya:

Manfaat Penjelasan
Inventory lebih akurat Stok bertambah berdasarkan barang diterima
Food cost lebih terkendali Qty dan kualitas dicek
Waste menurun Barang buruk tidak masuk storage
Supplier performance terlihat Supplier bermasalah tercatat
Finance lebih aman Invoice hanya diproses setelah matching
Audit trail kuat PO, GRN, invoice saling terhubung
Quality consistency lebih baik Bahan masuk sesuai standar produk

C. Proses & Alur Kerja

  1. Supplier datang membawa barang dan invoice/delivery note.
  2. Receiving PIC membuka PO.
  3. Barang dihitung/ditimbang.
  4. Kitchen/bar mengecek kualitas jika perlu.
  5. Barang diterima, ditolak, atau diterima sebagian.
  6. GRN dibuat.
  7. Inventory di-update.
  8. Barang disimpan sesuai standard storage.
  9. Finance melakukan 3-way matching.
  10. Supplier problem dicatat untuk evaluasi.

Alur Kerja

Tahap Aktivitas
Arrival Supplier datang
PO Check Cocokkan PO
Quantity & Quality Hitung, timbang, cek kualitas
GRN Buat receiving report
Inventory Update Stok masuk
Storage Simpan sesuai standar
Finance Matching PO-GRN-invoice
Supplier Review Catat issue

D. SOP yang Terkait

SOP Receiving Skala Sedang

Langkah Prosedur
1 Receiving hanya dilakukan berdasarkan PO resmi
2 Barang datang dicek oleh receiving PIC dan user terkait, misalnya kitchen/bar
3 Quantity dicocokkan dengan PO
4 Barang ditimbang/dihitung sesuai satuan resmi
5 Quality check dilakukan sesuai standar item
6 Untuk cold/frozen item, cek suhu dan kondisi kemasan
7 Expiry date dicek untuk item tertentu
8 Barang yang tidak sesuai dipisahkan dan dicatat
9 GRN dibuat untuk barang yang diterima
10 Inventory di-update berdasarkan GRN
11 Invoice hanya diproses jika cocok dengan PO dan GRN
12 Supplier performance dicatat jika sering bermasalah

Template GRN / Receiving Report

GRN No PO No Supplier Item Qty PO Qty Received Qty Rejected Reason Receiver

E. Audit yang Terkait

Area Audit Pertanyaan Audit
PO requirement Apakah receiving hanya berdasarkan PO?
GRN Apakah setiap barang diterima memiliki GRN?
Quantity check Apakah barang ditimbang/dihitung sesuai satuan?
Quality standard Apakah kualitas dicek berdasarkan standar tertulis?
Temperature check Apakah cold/frozen item dicek suhunya?
Rejection Apakah barang ditolak dicatat dan disetujui?
Inventory update Apakah stok hanya bertambah setelah GRN?
Invoice matching Apakah finance mencocokkan PO-GRN-invoice?
Supplier record Apakah masalah supplier dicatat?

F. Stakeholder Terkait

Stakeholder Peran
Owner/Management Menetapkan standar receiving
Outlet Manager Bertanggung jawab atas barang masuk outlet
Receiving PIC Mengecek dan membuat GRN
Kitchen Head Mengecek kualitas bahan makanan
Bar Head Mengecek bahan minuman
Inventory Controller Update stok berdasarkan GRN
Finance/Admin Melakukan matching dan payment
Purchasing Menindaklanjuti supplier issue
Supplier Mengirim barang sesuai PO
Internal Checker/Audit Memeriksa kepatuhan receiving

G. Studi Kasus

Restoran “Seafood Family Dining”

Komponen Kondisi
Jenis usaha Restoran seafood keluarga
Jumlah kursi 160 kursi
Omzet bulanan ± Rp3,8 miliar
Karyawan 48 orang
Supplier Seafood, daging, sayur, packaging, minuman
Masalah utama Bahan high value diterima tanpa standar pengecekan yang kuat

Restoran ini banyak membeli udang, kepiting, ikan, dan daging. Nilai pembelian harian cukup besar. Sebelumnya receiving hanya mencocokkan jumlah secara kasar. Setelah food cost naik, management menemukan bahwa beberapa seafood diterima dalam kondisi kurang segar, berat tidak sesuai, dan waste meningkat.

Setelah dibuat GRN dan quality checklist, receiving menjadi lebih ketat.

Quality Receiving Seafood

Item PO Qty Qty Datang Quality Check Status Action
Udang 40 kg 40 kg Bau normal, warna baik Terima Masuk chiller
Kepiting 50 kg 48 kg 3 kg lemah/mati Partial accept Tolak 3 kg
Ikan kakap 30 kg 30 kg 2 ekor tidak segar Partial accept Potong invoice
Cumi 25 kg 25 kg Baik Terima Masuk freezer

Receiving report ini menjadi dasar stok dan pembayaran.

H. Evaluasi & Refleksi

Pertanyaan refleksi untuk restoran sedang:

  1. Apakah semua receiving memiliki PO dan GRN?
  2. Apakah bahan high value ditimbang detail?
  3. Apakah barang buruk pernah masuk storage karena tidak dicek?
  4. Apakah stok sistem bertambah hanya setelah GRN?
  5. Apakah invoice supplier pernah berbeda dari GRN?
  6. Apakah supplier yang sering bermasalah dievaluasi?
  7. Apakah receiving membantu menurunkan waste dan food cost?
  8. Apakah audit trail PO-GRN-invoice lengkap?

Kesimpulan Skala Sedang

Untuk restoran sedang, receiving harus menjadi kontrol formal. Fokusnya adalah PO, quantity check, quality standard, temperature check, GRN, inventory update, supplier record, dan 3-way matching. Receiving yang kuat menjaga inventory dan laporan keuangan tetap akurat.

🧠
Uji Pemahaman Anda — Skala Sedang Jawab beberapa pertanyaan singkat untuk mengecek pemahaman Anda.

Restoran Skala Besar

A. Pembahasan Umum

Pada restoran skala besar, receiving adalah bagian dari supply chain governance, quality assurance, inventory control, dan financial control. Bisnis besar bisa memiliki banyak outlet, warehouse, central kitchen, multi-brand, ribuan SKU, kontrak supplier besar, dan volume receiving tinggi setiap hari.

Pada tahap ini, receiving harus dijalankan melalui sistem, bukan hanya form manual. Barang yang datang harus dicocokkan dengan PO sistem, diterima melalui Goods Receipt / GRN, dicek kualitasnya, dicatat batch/expiry jika perlu, masuk inventory secara otomatis, dan menjadi dasar invoice matching.

Receiving besar harus memperhatikan:

Area Receiving Besar Fungsi
PO system Barang hanya diterima jika ada PO resmi
Supplier ASN/delivery schedule Supplier datang sesuai jadwal
Barcode/item code Menghindari salah item
Quality inspection Menjamin kualitas bahan
Temperature log Cold chain control
Batch/lot number Traceability
Expiry date Kontrol food safety
Partial receiving Barang diterima sebagian jika tidak sesuai
Rejection workflow Barang ditolak dengan alasan
GRN system Bukti stok masuk
3-way matching PO-GRN-invoice
Supplier scorecard Evaluasi performa supplier

B. Tujuan & Manfaat

Tujuan receiving pada skala besar adalah memastikan semua barang yang masuk ke sistem benar secara PO, jumlah, kualitas, keamanan pangan, traceability, dan nilai keuangan.

Manfaatnya:

Manfaat Penjelasan
Inventory lebih akurat Stok sistem berdasarkan GRN valid
Food safety lebih kuat Temperature, expiry, dan quality check dilakukan
Supplier lebih accountable Rejection dan delay masuk scorecard
Finance lebih terlindungi Invoice mismatch bisa ditahan
Waste lebih rendah Barang buruk tidak masuk warehouse/outlet
Traceability lebih baik Batch/lot memudahkan penelusuran
Audit readiness meningkat Semua receiving punya jejak sistem
Supply chain lebih profesional Receiving menjadi kontrol strategis

C. Proses & Alur Kerja

  1. Supplier menerima jadwal delivery.
  2. Supplier datang ke warehouse/outlet/central kitchen.
  3. PO divalidasi.
  4. Item dan quantity dicek.
  5. QA/receiving melakukan quality inspection.
  6. Temperature, expiry, batch dicatat jika relevan.
  7. Barang diterima, ditolak, atau diterima sebagian.
  8. GRN dibuat.
  9. Inventory bertambah.
  10. Finance melakukan matching.
  11. Supplier scorecard diperbarui.
  12. Exception direview oleh procurement, QA, dan management.

Alur Kerja

Tahap Aktivitas
Delivery Schedule Supplier datang sesuai slot
PO Validation Cek PO valid
Quantity Check Hitung/timbang/scan
Quality & Safety Cek kualitas, suhu, expiry
GRN Goods receipt system
Inventory Update Stok bertambah
Finance Matching PO-GRN-invoice
Supplier Scorecard Issue dicatat
Audit QA/internal audit sampling

D. SOP yang Terkait

SOP Receiving Skala Besar

Tahap Prosedur
1 Supplier delivery schedule ditetapkan
2 Barang hanya diterima jika ada PO valid
3 Receiving team scan/check item code dan PO
4 Quantity dicek berdasarkan satuan sistem
5 Quality check dilakukan berdasarkan specification sheet
6 Cold/frozen item wajib dicatat suhu saat datang
7 Batch/lot number dan expiry date dicatat untuk item relevan
8 Barang tidak sesuai masuk rejection workflow
9 Partial receiving dilakukan jika hanya sebagian barang layak
10 GRN dibuat dalam sistem setelah barang diterima
11 Inventory otomatis bertambah berdasarkan GRN
12 Supplier issue masuk supplier scorecard
13 Finance melakukan 3-way matching
14 Internal audit/QA melakukan sampling receiving

Receiving Control Dashboard

Indicator Fungsi
On-time delivery Mengukur ketepatan supplier
PO compliance Barang datang sesuai PO
Quantity variance Selisih jumlah/berat
Quality rejection rate Barang ditolak karena kualitas
Temperature failure Cold chain issue
Expiry risk Barang mendekati expired
GRN pending Barang belum selesai receiving
Invoice mismatch PO-GRN-invoice tidak cocok
Supplier score Evaluasi performa supplier

E. Audit yang Terkait

Area Audit Pertanyaan Audit
PO validation Apakah barang tanpa PO diblokir?
Delivery schedule Apakah supplier datang sesuai jadwal?
Item code Apakah barang diterima sesuai kode item?
Quantity variance Apakah selisih quantity otomatis tercatat?
Quality inspection Apakah bahan dicek sesuai specification sheet?
Temperature log Apakah cold/frozen item dicatat suhunya?
Batch/expiry Apakah batch dan expiry dicatat untuk traceability?
Rejection workflow Apakah barang ditolak terdokumentasi?
GRN system Apakah stok hanya masuk setelah GRN approved?
Invoice matching Apakah mismatch ditahan sebelum payment?
Supplier scorecard Apakah issue supplier memengaruhi evaluasi?
QA/internal audit Apakah sampling receiving dilakukan?

F. Stakeholder Terkait

Stakeholder Peran
CEO/Management Mengawasi supply chain risk
CFO/Finance Mengontrol payment berdasarkan GRN
COO/Operation Menjaga kelancaran bahan untuk outlet
Procurement Head Mengelola supplier dan issue receiving
Supply Chain Head Mengelola warehouse dan distribusi
Warehouse Manager Bertanggung jawab atas receiving warehouse
Central Kitchen Manager Mengecek bahan untuk produksi
QA/Food Safety Menetapkan quality specification
Receiving Team Mengecek barang dan membuat GRN
IT/System Team Menjaga sistem receiving dan inventory
Supplier Mengirim barang sesuai PO dan standar
Internal Audit Menguji kepatuhan dan kontrol receiving

G. Studi Kasus

Grup “Fresh Bowl Indonesia”

Komponen Kondisi
Jenis usaha Multi-outlet rice bowl dan salad chain
Jumlah outlet 55 outlet
Omzet tahunan ± Rp260 miliar
Karyawan 1.100 orang
Fasilitas Warehouse dan central kitchen
Masalah utama Receiving warehouse tidak cukup kuat untuk mengontrol kualitas dan expiry

Fresh Bowl Indonesia menerima bahan segar, protein, saus, packaging, dan produk semi-jadi dalam volume besar. Beberapa kali terjadi masalah: sayur cepat rusak, saus mendekati expired, packaging kurang jumlah, dan bahan beku datang dengan suhu tidak sesuai.

Setelah audit, ditemukan bahwa receiving warehouse belum memiliki quality checklist dan temperature log yang disiplin. Barang langsung masuk inventory walaupun kualitasnya belum diverifikasi lengkap.

Perbaikan Receiving Warehouse

Area Kontrol Baru
Delivery schedule Supplier wajib datang sesuai slot
PO matching Barang tanpa PO tidak diterima
Temperature check Frozen/chilled item wajib dicek
Expiry check Produk packaged wajib minimum shelf life
Batch record Item tertentu dicatat batch/lot number
Rejection form Barang buruk ditolak dengan foto
GRN system Stok hanya masuk setelah approved receiving
Supplier scorecard Keterlambatan/penolakan dicatat

H. Evaluasi & Refleksi

Pertanyaan refleksi untuk restoran besar:

  1. Apakah barang tanpa PO bisa masuk ke inventory?
  2. Apakah semua receiving memiliki GRN sistem?
  3. Apakah quantity variance terlihat otomatis?
  4. Apakah cold chain dicek dengan temperature log?
  5. Apakah batch dan expiry dicatat untuk item penting?
  6. Apakah barang ditolak terdokumentasi dengan alasan dan foto?
  7. Apakah supplier scorecard menggunakan data receiving?
  8. Apakah invoice mismatch otomatis ditahan?
  9. Apakah QA/internal audit melakukan sampling receiving?
  10. Apakah receiving membantu menurunkan waste, claim, dan stock variance?

Kesimpulan Skala Besar

Untuk restoran besar, receiving adalah bagian penting dari supply chain governance. Fokusnya adalah PO validation, item code, quantity check, quality inspection, temperature log, batch/expiry tracking, GRN system, supplier scorecard, 3-way matching, dan audit trail. Receiving yang kuat melindungi kualitas produk, inventory, dan keuangan perusahaan.

🧠
Uji Pemahaman Anda — Skala Besar Jawab beberapa pertanyaan singkat untuk mengecek pemahaman Anda.

Resources

Kumpulan resource terkait untuk mendukung dan memperdalam pembahasan pada artikel ini.

Baca Juga

Cara Membuat Neraca Restoran

Cara Membuat Neraca Restoran

Neraca restoran adalah laporan keuangan yang menunjukkan posisi keuangan bisnis pada satu tanggal…
8 min
✓ Tautan berhasil disalin!

Uji Pemahaman

Pilih jawaban yang menurut Anda paling tepat.

Yakin ingin keluar?
Semua jawaban akan terhapus dan uji pemahaman akan dimulai dari awal saat dibuka lagi.